![]()
Kutai Timur – Penjabat Bupati Kutai Timur (Kutim), Agus Hari Kusuma, memberikan tanggapan terkait perbedaan data stunting yang ditemukan antara Dinas Kesehatan dan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Menurut Agus, perbedaan data ini perlu segera diselesaikan agar dapat menjadi dasar yang solid dalam merumuskan kebijakan yang efektif dalam penanggulangan stunting di Kutai Timur.
“Data ini seharusnya sama karena akan menjadi dasar kita membuat kebijakan,” ujar Agus Hari Kusuma. Ia menggarisbawahi pentingnya keseragaman data dalam menangani masalah stunting. Data yang tidak sinkron antara lembaga terkait dapat membingungkan perencanaan dan pelaksanaan program, serta menghambat upaya-upaya yang lebih terarah dalam menanggulangi masalah ini.
Agus juga mencatat bahwa salah satu penyebab ketidaksesuaian data stunting adalah perbedaan pemahaman tentang stunting di antara berbagai instansi yang menangani masalah ini. “Perbedaan pemahaman tentang stunting ini bisa menjadi salah satu alasan ketidaksesuaian data. Kita perlu pendekatan seragam agar masyarakat memahami dengan baik apa itu stunting,” jelasnya. Ia menekankan bahwa penting bagi semua pihak untuk memiliki pemahaman yang sama agar upaya penanggulangan stunting dapat dilakukan secara lebih efektif dan terkoordinasi.
Selain itu, Agus Hari Kusuma juga mengingatkan bahwa faktor-faktor lain, seperti radiasi dan dampak teknologi, bisa turut menjadi penyebab stunting yang jarang disadari masyarakat. “Radiasi dan faktor teknologi lain bisa jadi penyebab yang jarang disadari, dan ini perlu kita waspadai,” tambahnya. Dengan pendekatan yang lebih luas dan komprehensif, diharapkan Kutai Timur dapat mengurangi angka stunting dan menciptakan generasi yang lebih sehat dan produktif. (Adv)

















