![]()
Kutim — Di tengah dinamika pertumbuhan Kutai Timur, satu gerakan sunyi namun tegas kini mengalir di balik layar: kolaborasi tiga instansi untuk menciptakan kota yang lebih tertib dan manusiawi. Satpol PP Kutim, Dishub, dan Dinsos kini tidak lagi berjalan sendiri-sendiri. Mereka merajut kerja sama yang lebih terarah, menghadirkan pola penanganan masalah yang menyentuh teknis jalan raya hingga persoalan sosial yang kerap luput dari perhatian.
Bagi Kepala Satpol PP Kutim, Fatah Hidayat, kerja sama ini bukan sekadar formalitas lintas dinas. Ini adalah “kerja bareng” yang dirancang untuk memastikan bahwa setiap masalah di lapangan diselesaikan oleh pihak yang tepat, dengan pendekatan yang tepat pula.
Di ranah lalu lintas, langkah penertiban kini lebih hati-hati namun tegas. Parkir liar yang dulu dianggap “masalah kecil”, kini ditangani bersama Dishub untuk mencegah kemacetan dan potensi kecelakaan. Dishub bergerak sebagai ahli teknis, Satpol PP sebagai penegak aturan—kombinasi yang membuat penataan jalan lebih efektif.
“Kami tidak ingin menindak tanpa memberi pencerahan. Edukasi menjadi bagian dari operasi kami,” kata Fatah. Sebab menurutnya, ketertiban bukan hanya soal sanksi, tetapi membentuk kebiasaan baru di tengah masyarakat.
Sementara itu, di sudut lain kota, persoalan sosial ditangani dengan pendekatan yang lebih manusiawi. Setiap gelandangan, pengemis, atau warga rentan yang terjaring operasi tidak lagi diperlakukan hanya sebagai ‘objek penertiban’. Bersama Dinsos, Satpol PP kini bergerak sebagai jembatan menuju pemulihan.
“Kami ingin mereka kembali menemukan pijakan,” ujar Fatah. Melalui koordinasi ini, bantuan, perlindungan, hingga pendampingan menjadi bagian dari paket penanganan yang lebih komprehensif.
Fatah menegaskan, kolaborasi tiga lembaga itu bukan sekadar strategi teknis, tetapi bagian dari upaya membangun wajah kota yang lebih tertib, aman, dan ramah bagi semua golongan masyarakat.
“Kami ingin Kutim tidak hanya rapi secara visual, tapi juga sehat secara sosial,” tutupnya.
Lewat pola kerja baru ini, Satpol PP Kutim menunjukkan bahwa ketertiban umum bukan lagi urusan satu lembaga, melainkan gerak bersama untuk masa depan kota yang lebih baik. (ADV)
















